Tampilkan postingan dengan label Pikiran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pikiran. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 November 2011

Hilangnya NAFAS CINTA


Kadangkala hati memang ada tetapi hanya seperti sebuah “tunas”, bukan seperti “bunga”.
Seringkali hati hanya menjadi “benih”, bukan menjadi “buah”. Mengapa? Karena hati kita telah kehilangan “cinta”. Hati kita telah kehilangan “pesona” kegembiraan. Hati kita telah kehilangan “daya” untuk menebar kebaikan. Hati kita telah kehilangan “keharuan” untuk merasakan penderitaan. Saat ini, kita hidup dalam kebersamaan, namun tidak banyak yang mengerti arti “cinta” dalam kebersamaan.

Jumat, 21 Oktober 2011

Menyetel SENAR-SENAR jiwa


Karakteristik dari sunyi sepi adalah memang “hening” tanpa bunyi, sehingga suaranya tidak banyak terdengar. Ia hanya didengar oleh manusia-manusia yang kesehariannya juga “sunyi”. Tidak dalam posisi menyebut yang hidup dalam “hening “ adalah sudah benar, dan yang lain adalah salah. Tetapi serupa dengan mulut manusia, “gigi” wujudnya keras karena tugasnya memotong dan menghancurkan. “Lidah” bentuknya lembut karena panggilan hidupnya bukan untuk menghancurkan melainkan merasakan. Keduanya punya tugas yang berbeda.

Kamis, 20 Oktober 2011

GRAVITASI benci dan LEVITASI cinta


Seorang guru sufi mendatangi seorang murid muda yang belakangan ini wajahnya selalu tampak murung. “Kenapa kau selalu murung nak? Bukankah banyak hal yang indah didunia ini?” sang guru bertanya. “Guru, belakanan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya,” jawab sang murid muda.
Sang guru tampak tersenyum dan berkata. “Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu.” Si muridpun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi dengan membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.

Antara MASA LALU dan MASA DEPAN

Terdesak oleh keadaan dimana beratnya beban hidup dan konflik batin yang mengelisahkan, seorang murid mendatangi sebuah pusat meditasi ”dzikir” yang diasuh oleh seorang sufi terkenal. Lama sekali murid ini menunggu agar bisa bertatap muka  dengan sufi tersebut. Pagi, siang, sore dan malam tetap saja terhalang oleh demikian banyak murid dan penggemar. Dan disebuah pagi, murid ini beruntung bisa bertatap muka empat mata. Tanpa menoleh kekiri dan kanan, ia pun langsung minta diajari  hidup penuh damai dan bahagia. Melihat muka murid yang demikian memelas, sufi terdiam dan kemudian bertanya, ”Apakah sudah makan pagi?”. Murid itu menjawab dengan penuh semangat, ”sudah, guru”. Sufi itu tersenyum dan berkata,” Apakah makan pagi hari ini terasa nikmat?”. Murid itu terdiam. Sesaat kemudian sufi itu berkata, ”Dan setelah selesai makan, jangan lupa mencuci tangan”. Murid ini tertegun, tidak mengerti. Kenapa pertanyaan tentang kedamaian hidup harus direspon dengan pertanyaan sudah makan pagi. Bahkan setelah itu kenapa kebutuhan akan ketenangan jiwa direspon dengan ”retorika” nimatnya makan pagi dan cuci tangan setelah makan. Lama murid ini merenungi apa  yang sebenarnya terjadi.

Selasa, 18 Oktober 2011

EGO yang BELUM MENETAS



Ketika diundang menjadi dosen tamu di fakultas Psikologi UGM, saya menceritakan pengalaman dan berdiskusi seputar  kasus “psikosomatis Imajiner” . Dalam diskusi itu saya mendapati sebuah pertanyaan menarik yaitu  bahwa perasaan menderita  atau ketidakbahagiaan sebenarnya muncul dari suasana hati yang kurang bersyukur, apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa orang begitu sulit untuk bersyukur?

Jumat, 14 Oktober 2011

HARMONY & BALANCE of Nature





MENYATU dalamTUBUH



Memahami diri sendiri adalah sesuatu yang sangat mendasar. Tidak sulit dan tidak mungkin sulit. Bahkan tidak dibutuhkan teknik baru untuk mengenal siapa Anda. Saat ini Anda hanya perlu meninggalkan kebiasaan untuk selalu “memikirkan” benda. Anda boleh memandang benda tapi berusahalah untuk tidak  memikirkannya. Jangan katakan,” apa jenis pohon ini?” jangan katakan pohon ini “hijau” atau “kering.” Jadi cukup pandangi saja pohon itu sebagaimana adanya. Berusahalah agar tidak membuat pikiran “bergejolak” disekitar pohon. Seseorang bisa melakukannya dimana saja dan memandang apa saja. Tidak ada sesuatu yang akan terjadi, kecuali sesaat pikiran menjadi “diam”. Pohon itu tetap ada disana dan Anda tetap ada disini, namun pikiran tidak hadir antara pohon dan Anda. Interval inilah yang disebut “keheningan”. Pikiran kita hanya perlu diam untuk bisa mendengar “bahasa tubuh”. Sebab kepala terlalu ramai untuk bisa mendengarkan kemurnian dari suara hati dan bahasa tubuh.

Senin, 10 Oktober 2011

SADAR dalam KIMIA BAWAH SADAR


Berhubungan dengan tubuh berarti ”sensifitas” yang dalam. Namun hubungan yang ada seringkali timbul saat ada ”sesuatu yang salah”. Sekarang Anda memiliki kepala. Disaat ”sakit kepala” datang, Anda membuat hubungan, namun bukan dengan kepala Anda tetapi dengan rasa ”sakit kepala”. Kita seringkali kehilangan kapasitas untuk benar-benar ”merasakan” tubuh dalam keadaan sehat. Kalaupun ada hubungan, seringkali terhubung saat tidak adanya keluhan sakit. Jadi yang ada hanyalah hubungan sehat yang ”negatif” karena sehat tanpa adanya keluhan sakit bukan sehat yang sesungguhnya. Ada banyak kualitas hubungan saat tubuh dan pikiran Anda terhubung secara baik. Dan Anda akan mulai tersadar dengan proses kimia tubuh Anda.

Perasaan marah merupakan tata kimia tubuh. Seorang ahli biokimia akan membuat racikan obat untuk menjadikan Anda ”kebal” marah atau bahkan Anda menjadi seorang ”pemarah”. Seks juga adalah fenomena kimiawi. Dosis tertentu dari suntikan hormonal dapat mencipta hasrat seksual atau bahkan menghilangkannya. Saat ini sensorik dan motorik Anda dapat ditentukan oleh tata kimia jasad Anda. Bila alkohol diberikan kepada Anda, maka perilaku Anda berubah. Bila tata kimia tubuh dapat mengubah kesadaran Anda, lalu apa artinya kesadaran itu? Bila suatu ”injeksi” dapat membuat Anda menjadi tidak sadar, sebenarnya apa yang terjadi dengan kesadaran Anda? Apakah berati zat kimia yang diberikan melalui suntikan lebih kuat dari kesadaran Anda? Permasalahannya adalah bukannya mengapa Anda menjadi pemarah atau tidak, atau menjadi seksual atau tidak, melainkan bagaimana untuk tetap ”sadar” dalam keadaan yang memerlukan ”ketidaksadaran”.

Badan dan pikiran adalah ”satu energi”. Misalnya, jika Anda mampu mengatur pernafasan saat marah, maka kemarahan akan berangsur hilang. Saat kecemasan datang pada Anda, dan Anda mampu mengatur ”ritmik” nafas, maka perasaan cemas akan lenyap. Jadi saat Anda terlatih untuk ”konsisten” dengan keteraturan nafas, maka emosi dan pikiran negatif apapun itu, tidak akan menguasai Anda. Hasrat itu tetap ada, namun tidak mewujud. Sadari sepenuhnya pernafasan Anda. Ketika Anda dapat menjadi sadar saat bernafas, maka pikiran Anda juga bernafas. Ketika Anda mampu merasakan gerakan halus pernafasan, maka Anda akan mampu merasakan gerakan halus pikiran Anda. Saat Anda tetap ”sadar”, ketika amarah menguasai Anda, atau tetap sadar di saat hasrat seksual Anda menguat, maka pikiran Anda akan melampaui tata kimia Anda. Seseorang bisa meniadakan rasa nyeri tanpa suntikan ”anestesi” bahkan bisa menstransend (melampaui) ”adiksi” narkotika dan bahan kimia lainnya. Jadi rangsang telah diberikan tapi responnya tidak Ada.

Anda bisa memulai terhubung dengan tubuh Anda melalui gerakan. Berlari bisa menjadi meditasi yang indah atau menari juga bisa menjadi meditasi yang indah. Kesadaran harus ditambahkan pada gerakan. Lari, tapi larilah dengan kesadaran. Jika Anda berlari hanya secara ”mekanik”, berarti Anda telah kehilangan intinya. Jika Anda merasa bahwa lari menjadi kebiasan yang otomatis, maka cobalah menari. Jika kemudian menari menjadi otomatis, maka cobalah berenang. Yang perlu dimengerti adalah gerakan hanyalah sebuah situasi untuk menciptakan kesadaran.

Jadi cobalah untuk lebih sensitif terhadap tubuh Anda. Dengarkan tubuh Anda, karena setiap saat tubuh Anda akan mengatakan banyak hal. Rasakan tubuh Anda, karena setiap detik tubuh Anda akan memberikan ”taste” kehidupan Anda. Kapan saja, saat ada konflik antara tubuh dan pikiran, tubuh Anda hampir selalu benar daripada pikiran Anda, mengapa? Karena tubuh kita bersifat alamiah bawah sadar, sedangkan pikiran bersifat pilihan sadar. Tubuh adalah milik alam semesta, sedangkan pikiran milik lingkungan Anda. Tubuh memiliki akar yang dalam di dalam kehidupan sedangkan pikiran hanya di permukaan. Tetapi kita menjadi terbiasa untuk mendengarkan pikiran dan jarang mendengarkan ”tubuh” kita. Saat Anda ”sadar” dalam kimia ketidaksadaran maka Anda juga akan ”sadar” saat proses ”kematian” tiba. Dengan kesadaran, ketakutan menjadi ketenangan, kecemasan menjadi ketentraman. kullu nafsin dzaa-iqatul mawti wanabluukum bisysyarri walkhayri fitnatan wa-ilaynaa turja'uun.

Kamis, 06 Oktober 2011

Antara EMULSI dan SENYAWA piikiran




Apakah Tuhan menciptakan “segala” apa yang ada di langit dan dibumi? Dengan berbekal ”pengetahuan” untuk melihat apa yang ”tersurat” dan ”tersirat”, tidak ada alasan untuk mengatakan "tidak". Namun jika Tuhan menciptakan segalanya, apakah berarti Tuhan juga menciptakan kejahatan?
Dalam suatu kuliah terbuka, seorang profesor dari sebuah universitas terkenal, menantang mahasiswa-mahasiswanya dengan pertanyaan ini, “Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?”.
Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, ”Betul, Dia yang menciptakan semuanya”.
”Tuhan menciptakan semuanya?’Tanya professor sekali lagi.
”Ya, pak, semuanya” kata mahasiswa tersebut.
Profesor itu menjawab, ”Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan juga menciptakan Kejahatan. Menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah juga kejahatan.’
Mahasiswa itu ”terdiam” dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa telah unggul dan angkuh karena sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah ”mitos”.
Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, ”Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?”
“Tentu saja,” jawab si Profesor
Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, “Profesor, apakah dingin itu ada?”
”Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada.” jawab si profesor diiringi tawa mahasiswa lainnya.
Mahasiswa itu menjawab, “Kenyataannya, pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut.”
Kita menciptakan kata ”dingin” untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.
Mahasiswa itu melanjutkan, ”Profesor, apakah gelap itu ada?”
Profesor itu menjawab, “Tentu saja itu ada.”
Mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi anda salah Pak. gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa ”mengukur” gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut.
Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan ”cahaya.”
Akhirnya mahasiswa itu bertanya, ”Profesor, apakah kejahatan itu ada?”
Dengan bimbang professor itu menjawab, ”Tentu saja ada, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak kasus kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan.”
Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, ”Sekali lagi Anda salah, Pak. Kejahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, ”kejahatan” adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ”ketiadaan panas” dan gelap yang timbul dari ”ketiadaan cahaya”
Profesor itu terdiam... Dan nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein.

Ada yang menarik dari kisah diatas, bukan hanya pengetahuan tentang ”realitas” panas dan dingin atau gelap dan terang, namun lebih pada bagaimana persepsi ”dualitas” kehidupan kita. Biasanya kita memulai untuk memahami diri dengan “pembagian”, Diri Anda terbagi dalam “badan dan pikiran”, tersusun dari “jiwa dan raga”, terdiri dari “jasmani dan ruhani”. Jika ini yang terjadi, maka yang datang kepada Anda hanyalah tumpukan “pengetahuan” tentang diri Anda, bukan “keberadaan” Anda. Konsep tentang seseorang yang terbagi-bagi antara tubuh dan pikiran, antara fisik dan spiritual sebenarnya hanyalah linguistik “imajiner” dari pikiran Anda. Bila tubuh Anda terluka, pada saat itu Anda tidak pernah merasa bahwa Anda adalah dua. Anda merasa satu dengan tubuh. Misalnya, saat seseorang menempelkan pisau di dada Anda, pada saat itu Anda tidak pernah berpikir bahwa orang itu akan membunuh ”tubuh Anda”, yang Anda pikirkan adalah orang itu akan membunuh ”Anda”. Hanya kemudian, bila peristiwanya menjadi bagian dari ”ingatan” Anda, Anda mulai membagi-bagi. Anda bisa mengatakan bahwa orang itu akan merobek-robek ”tubuh” Anda, tetapi hal itu tak dapat diucapkan saat ”keberadaan” Anda terancam saat itu. Begitulah cara pikiran melihat sesuatu, selalu menciptakan ”dualitas”, tubuh dan pikiran, terang dan gelap, suka dan duka, cinta dan benci. Pikiran tidak bisa memahami ”terang dan gelap” adalah satu, memandang cinta dan benci sebagai kesatuan. Ini adalah sulit bagi pikiran, karena itulah akhirnya pikiran membagi-bagi dan selesailah masalahnya. Benci adalah lawan cinta, dan cinta adalah lawan benci. Sekarang pikiran Anda menjadi konsisten dan tenang. Jadi pembagian merupakan ”tetapan” dari pikiran Anda, bukan suatu kebenaran yang sesungguhnya. 


Pharmacy of the soul
inspiring by mukhlis@HC AMC channel

Selasa, 04 Oktober 2011

BERDIALOG dengan MIMPI

Membuka catatan memori, tepatnya tanggal 18 Januari 2007, sekitar jam 5an sore.. saya ditelpon oleh teman lama yang berprofesi sebagai dokter obsetri dan ginekologi disalah satu rumah sakit besar di Surabaya. Saat itu, dia ”curhat” karena ada salah satu pasien yang mengalami hal aneh saat mau melahirkan. Apa yang aneh? Dia cerita, sebutlah DN (usia 33 tahun) pada usia kehamilan sampai pada 8 bulan, status kehamilannya dinyatakan baik-baik saja bahkan riwayat chek up USG dinyatakan bahwa berat dan posisi janin ”baik”. Namun keanehan mulai terjadi pada fase 9 bulan. Saat kontrol terakhir yaitu satu minggu sebelum tanggal HPL, Scanning ultrasonografi (USG) mendeteksi ”tidak adanya janin dalam rahim”. Padahal pada pemeriksaan palpasi, masih terdeteksi adanya denyut jantung dalam dinding rahim.. Setelah selesai curhat sampai pada perkembangan status terakhir. Akhirnya saya menyarankan agar malam itu, DN melakukan usapan-usapan lembut pada perut dengan penuh kasih sayang. Lakukan sampai DN tertidur. Keesokan harinya, Dia menghubungi saya dan memberitahukan bahwa semalam DN BERMIMPI bahwa dia melihat selembar ”kain putih” dirahimnya. Setelah mendengarkan status terakhir dan berdasarkan pengamatan metafisis, akhirnya saya menyarankan agar DN minum air kelapa hijau hari itu juga sebelum terbenam matahari. Informasi terakhir, setelah DN minum air kelapa skitar jam 12an, kemudian DN melakukan check up USG. Hasilnya ” janin sudah bisa diidentifikasi kembali” dan malam itu akhirnya proses persalinan dilakukan dengan baik dan lancar, Alhamdulillah.


Mimpi adalah fenomena biologis bawah sadar “subconscious mind” yang bisa dialami oleh siapa saja. Sebagian besar mimpi, memang melibatkan pola-pola visual yang khas namun yang menarik adalah bahwa fungsi melihat dan mendengar pada fenomena ‘mimpi” sebenarnya tidak selamanya berhubungan dengan sensor “optic” mata dan “auditory” telinga, namun lebih pada sensor “pshynic” dari indra batin/pikiran Gn-6 (Indra keenam). Disebut “indra keenam” bukan karena kita sudah mempunya 5 (panca) indra tubuh, namun karena memang anatomis “radikulernya” terletak pada susunan keenam dari struktur indra pikiran yang ada pada setiap manusia. Istilah “ otak tengah” yang akhir-akhir ini menjadi populer, sebenarnya merupakan “polaritas” dari fungsi pshynic indra keenam namun tidak sepenuhnya benar jika seseorang yang aktif otak tengahnya menjadi “jenius” karena fungsi pshynic beresonansi pada alur “intuisi” bukan “intelektual”. Bahkan penelitian pada anak-anak yang terlahir “indigo” dengan tingkat bawaan (hereditas) yang “aktif” otak tengahnya, lebih menunjukkan pada profil “clairvoyance” bukan genius. Detail materi, lihat bahasan OTAK TENGAH antara “clairvoyance dan jenius”.



Kembali ke fenomena mimpi, bahwa tidak selamanya mimpi muncul karena impian, walaupun mimpi dan impian merupakan “prodromal” menuju kenyataan, namun keduanya memiliki jalur fisiologis yang berbeda. Impian mengalir melalui pembuluh “conscious” sedangkan mimpi mengalir melalui pembuluh “subconcious”. Walaupun begitu, pada saat “mind biorythm” mencapai siklus puncak (periode 33 hari) mimpi dan impian menyatu dalam satu garis “fluid” yang melahirkan “obsesi” munculnya peradaban. Dengan demikian, dimengerti bahwa teknologi yang ada saat ini, merupakan “karya” dari mimpi dan impian masa lalu.

Memahami etiologi terjadinya mimpi, setidaknya ditemukan ada 2 faktor penyebab adanya mimpi yaitu :

1. Ketidaknyamanan (disease) baik bersifat fisik maupun psikis. Pada dasarnya setiap ketidaknyamanan menghasilkan mimpinya sendiri. Ketika seseorang tidur dalam keadaan lapar, mimpi yang muncul adalah makanan lezat yang siap disantap. Atau bermimpi menyeberang sungai, saat lap basah ditempelkan di kaki orang yang sedang tidur. Kecemasan dan ketegangan juga melahirkan mimpi-mimpi buruk yang melelahkan. Adanya trauma masa lalu, perasaan cinta yang kandas, atau perasaan bersalah sering menimbulkan mimpi memorik yang membawa muatan ”emosi”. Adanya fenomena ”pavor nocturnus” seperti kejang, kramp dan perasaan terkunci saat tidur, juga bisa terjadi tidak saja karena sumbatan (obstruksi) pembuluh darah, namun juga bisa karena intervensi ”pressure” dari makhluk metafisik.

2. Adanya pesan telepatik untuk kita. Secara umum, kebanyakan orang ”mengalami” fenomena telepati, namun tidak banyak yang ”mengerti” tentang penyebab dan mekanisme telepati. Namun yang pasti, bahwa ikatan batin/hubungan darah melahirkan ”saklar otomatis” munculnya fenomena telepati emosional yang bersifat bawah sadar. Pada pemeriksaan sidik jari”, diketahui bahwa kemampuan telepati emosional, semakin kuat pada orang-orang yang cleft 1 dan cleft 2 menyatu pada ujung ”cantus”. Munculnya ”bipolar” pada kasus orang kembar atau ”emo1” pada hubungan orang tua dan anak, terjadi melalui mekamisme ini. Hal ini menjelaskan adanya kasus tentang individu yang bisa merasakan sakit dari individu lain yang sedang sakit dalam jalur keluarga. Ada satu lagi fenomena yang mirip dengan pola diatas yang disebut ”HTO”, fenomena ini tidak dipengaruhi oleh ikatan batin , namun masih bisa merasakan suka-duka emosi orang lain. Detail materi, ikuti bahasan TELEPATIC emosional yang KASIH. Ada beberapa kasus mimpi yang terjadi karena pesan telepati. Misalnya kasus ”motoric nocturnus” dimana seseorang yang tidur bisa melakukan berbagai aktifitas fisik dalam keadaan masih tertidur.

Senin, 03 Oktober 2011

Healing of BABY art












Salah satu teknik terapi pikiran yang diresekan untuk pasangan suami istri yang belum mempunyai "keturunan" adalah dengan teknik FLUIDA REPLIKA. Teknik ini termasuk bagian dari proses pikiran agar terhubung dengan Aura Gn-6 (indra keenam) dan Gn-3 (Solar plexus). Walaupun hanya sebuah replika, teknik ini benar-benar bisa mewujud menjadi kenyataan. Kemampuan "visual" dan "nafas sadar" pada arah replika membantu memadatkan "keinginan" menjadi "kenyataan". Beberapa catatan pasutri, dengan menempatkan berbagai asesoris replika "bayi" dirumah atau lingkungan sekitar, ternyata "mengindikasikan" respon positif untuk terwujudnya keinginan untuk mempunyai "anak".
Jika Anda termasuk pasangan suami istri yang belum dikarunia momongan, namun ingin mendapatkan berbagai replika  "baby Art", bisa menghubungi IC4u-Network: 0274-9190099 atau HC-AMC channel:08995051515. Kami juga melayani "Psikometri" untuk menemukan "esoteris" dari rantai keturunan yang hilang atau putus melalui pikiran Anda.

Kamis, 29 September 2011

BERSAHABAT dengan MATAHARI




Tarik nafas ...dalam-dalam melalui hidung selama 7 detik, tahan nafas diperut selama 5 detik kemudian bayangkan sebuah matahari kuning terang didepan PERUT Anda dan hembuskan nafas lewat mulut selama 9 detik... maka energinya akan membuat STAMINA HIDUP Anda menjadi kuat dan bersemangat..

Tarik nafas dalam-dalam melalui hidung selama 7 detik, tahan nafas diperut selama 5 detik kemudian bayangkan sebuah matahari kuning terang didepan DADA Anda dan hembuskan nafas lewat mulut selama 9 detik... maka energinya akan membuat SPIRITUAL dan HUMANISNE Anda menjadi kuat dan bersemangat..

Tarik nafas dalam-dalam melalui hidung selama 7 detik, tahan nafas diperut selama 5 detik kemudian bayangkan sebuah matahari kuning terang didepan LEHER Anda dan hembuskan nafas lewat mulut selama 9 detik... maka energinya akan membuat KOMUNIKASI Anda menjadi kuat dan bersemangat..

Tarik nafas dalam-dalam melalui hidung selama 7 detik, tahan nafas diperut selama 5 detik kemudian bayangkan sebuah matahari kuning terang didepan DAHI Anda dan hembuskan nafas lewat mulut selama 9 detik... maka energinya akan membuat INDRA-INDRA BATIN Anda menjadi kuat dan bersemangat..

Tarik nafas dalam-dalam melalui hidung selama 7 detik, tahan nafas diperut selama 5 detik kemudian bayangkan sebuah matahari kuning terang diatas KEPALA Anda dan hembuskan nafas lewat mulut selama 9 detik... maka energinya akan membuat INTUISI Anda menjadi kuat dan bersemangat..



Informasi  STUDI & PRAKTIKUM:
Materi terapan: HAND HEALING & PLASMIC, 
Kelas studi REGULER (Medium K-100, K-300 dan K-500) dan Kelas studi ONLINE (Channel O1, O2 dan O3), informasi dan registrasi hub. HC-AMC Channel: 02749190099 / 08995051515


Kamis, 15 September 2011

RADIASI Matahari dan PUASA Hijriyah


Dalam ilmu astronomi, Radiasi Matahari memiliki siklus 11 tahunan. Tahun 2007 sendiri merupakan akhir dari siklus ke 23 sejak pengamatan pertama pada abad 18.
Bumi dilindungi Magnestosphere, sehingga dampak badai radiasi bukan terjadi pada sisi bumi yang menghadap matahari (siang hari). Saat badai radiasi matahari datang, dampaknya terasa pada bagian bumi yang membelakangi matahari (malam hari).Radiasi di malam hari mempengaruhi tingkat getaran otak.Radiasi dan gravitasi bulan purnama meningkatkan permukaan air laut dan kehidupan makhluk laut di malam hari. Juga menarik air dalam membran otak dan lebih menggetarkan sel-sel otak. Getaran sel otak menggambarkan tingkat kesadaran dan aktivitas otak.Umat muslim dianjurkan puasa sunnah 3 hari “shaumul biidh” pada saat terang bulan setiap tanggal 13, 14, dan 15 bulan-bulan Hijriyah dan menghidupkan malam-malamnya.Tingkat radiasi bervariasi 0-100,000 dan di skala S1-S5 oleh NOAA.
Berdasarkan pengamatan, radiasi sebesar 1000 MeV particles s-1 ster-1 cm-2 terjadi 10 kali dalam satu siklus 11 tahunan, atau terjadi setiap 13 bulan sekali. Radiasi sebesar 1000 MeV particles s-1 ster-1 cm-2 ini digolongkan dalam skala S3, dan mulai berbahaya bagi manusia sebesar 1 chest x-ray.Radiasi dengan siklus 11,7 bulan (1 tahun hijriyah) adalah sebesar 800 MeV particles s-1 ster-1 cm-2.
Mengarah pada hipotesa malam Lailatul Qadar Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan (QS Al Qadr 97:3) Siklus satu tahunan (hijriyah) bernilai 1000 x bulan purnama. Malam yang nilainya 1000 bulan purnama adalah Lailatul Qadr. Lailatul Qadr terjadi di bulan Ramadhan. Jadi siklus badai matahari yang berulang setiap satu tahunan (hijriyah) terjadi setiap bulan Ramadhan. Secara umum wahyu-wahyu tentang ajaran agama yang membutuhkan tingkat pemahaman yang tinggi, banyak yang diturunkan di malam-malam bulan Ramadhan.
Penataan ayat-ayat Al Quran ke dalam surat-surat seperti yang tersaji saat ini, dilakukan pada malam-malam bulan Ramadhan.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...